*MENGAPA MESTI BERAGAMA*
Mengapa kita mesti Beragama dan Mencari tuhan, Karena suatu Kebutuhan Hidup manusia, banyak suatu masalah kehidupan manusia tidak bisa diselesaikan oleh Akal Manusia karena kemampuan akal manusia itu ada keterbatasan.
Keterbatasan terhadap dalam mengendalikan Ancaman musibah bencana Alam, gempa bumi, gunung meletus, tanah longgar, Tsunami, banjir bandang, Tornado dan lainnya, manusia dengan ilmunya hanya bisa memprediksi, prakiraan dan ramalan cuaca, setelah terjadi baru ketahuan, kekuatan bencana tersebut.
Maka manusia berkesimpulan mau tidak mau ,Ada kekuatan yang maha Dahsyat mengendalikan Alam Semesta ini.
I. TEMPAT IBADAH.
Dengan memperhatikan Judul tersebut mungkin agak terasa aneh, janggal, provokatif atau biasa saja, Tergantung dari Lantar belakang seseorang, Dari segi intelektual, spritual dan pengalaman dalam kehidupan manusia.
Di seluruh dunia ini, penjuru bumi , Pasti ada *TEMPAT BERIBADAH*, walaupun Komplek Perumahan sudah banyak fasilitas, saran prasarana, yang modern dan canggih, tetap mesti ada Fasilitas tempat beribadah.
Jadi hubungan kita Sama tuhan , tidak mungkin manusia bisa *Menjauh, Keluar dan Menghindar darinya, walaupun dia sendiri Atheis, tidak bertuhan*
Karena *Ikan Akan Mati bila Keluar dari Kolam Air, dan Air tetap ada walaupun tidak ada Ikan,*
Dan *Tumbuhan akan Mati bila di Cabut dari Tanah, tapi tanah tetap ada walaupun tidak ada tumbuhan*
Banyak sekali dari permasalahan kehidupan manusia, Bila hanya sekedar, *Kemampuan Intelektual, Materi, Jabatan, Jaringan sosial, dan kecanggihan teknologi,* Belum tentu bisa dapat menyelesaikan setiap masalah kehidupannya. Maka Alternatif terakhir pasti akan kembali kepada Allah.
Tetapi apakah Kepada Allah itu Harus Alternatif Terakhir, Kenyataan iya seperti itu, *Tua tidak bisa dihindarkan, mati suatu Kepastian,* Dimana kita sudah tua, pikiran tenaga berkurang, dan Manusia tidak menerima lagi untuk kita mendapatkan pekerjaan, sudah pensiun, pengurangan te.aga kerja, PHK dan lainnya, Barulah mereka mencari tempat peribadatan bekerja, kepada Allah.
Pada saat Uang kita , Jabatan kita, kekuasaan kita, Tidak bisa lagi membeli dan membayar, Kesehatan dan kesembuhan , Walaupun dengan Rumah sakit terkenal, Peralatan yang Canggih dan Dokter yang Ahli, maka sang Dokterpun Berbicara : *"Kayaknya ilmu saya sudah maksimal, dengan peralatan canggih dan obat paten, Semuanya kita serahkan kepada Allah*
Jadi sebenarnya *Kita ini di dunia sedang mencari apa,? Kenapa kita tidak menemukannya ?:"*
Sesungguhnya Manusia itu sedang *MENCARI KETENANGAN* iya berharap Dengan mencari, mengejar dan mendapatkan Harta, tahta, Mahkota, wanita, jabatan dan kepopuleran berharap akan *Menemukan ketenangan* Ternyata sampai akhir hidupnya, tetap , *Mengeluh, Gelisah, stres, struk dan Stop* innalilahi!
Tua tidak bisa dihindarkan, Penyakit datang, kematian pasti, Bila Kita tidak bisa , *Menyelamatkan Tubuh, Untuk itu SELAMATKANLAH RUH DAN JIWAMU SAAT KEMBALI MENEMUI ALLAH*
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an
وَّاَنَّ الْمَسْجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ اَحَدًا ۖ
“ Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah menyembah sesuatu pun selain Allah” (QS. Al-Jin:18)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) sudah bersabda, الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ “Seluruh bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan tempat pemandian” (HR. Tirmidzi no. 317, Ibnu Majah no. 745, Ad Darimi no. 1390, dan Ahmad 3: 83. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Jadi di seluruh penjuru dunia, dipastikan, Ada Tempat Ibadah, yang Menandakan *Manusia itu lemah tiada daya dan upaya, Dan ada kekuatan yang Maha kuasa di dunia yang KekuasaanNya, tidak tertandingi, Dialah Allah SWT.*
II. KETENANGAN
Sungguh aneh kebanyakan manusia, Mereka seumur hidupnya, dengan segala daya upaya kemampuannya, Mencari sesuatu, tetapi tidak pernah ketemu, itulah yang namanya *KETENANGAN HIDUP*
Mereka berharap, Dengan Mengejar, Jabatan, Harta kekayaan, Ilmu pengetahuan, dan Popularitas, Hidupnya akan Tenang, ternyata Berapa banyak para pemimpin dunia, Politikus, ilmuwan dan artis terkenal akhir hidupnya teragis dan Bunuh diri.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ
Hai jiwa yang tenang.
Q.S Al-Fajr [89] : 27
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Q.S Al-Fajr [89] : 28
Jadi ketenangan dan Kedamaian hidup itu, adalah Kembalinya Ruh atau jiwa manusia kepada si Pemilik Ruh yaitu Allah.
Kembalinya Ruh itu bukan Pada saat Ruh itu Keluar dari tubuh manusia, Kalau Ruh keluar dari tubuh manusia itu namanya Azal atau kematian, batas waktu Ruh selama di dunia, Hakekatnya Ruh tidak Mati, tetap hidup kembali kepada si Pemilik hidup yaitu Allah.
Jadi bagaimana agar hidup ini tenang dan penuh kedamaian, yaitu caranya, Ruh ini kembali kepada Allah, pada Saat ruh masih di dalam Tubuh .
Kembali kepada Allah, dengan mengingat Allah, dengan Mengingat Allah maka Hati akan Tenang dan penuh kedamaian
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram." (QS. Al-Ra'd: 28) 🌟
Jadi agar kita ini bisa hidup aman, nyaman penuh ketenangan dan kedamaian, harus memiliki kendaraan yang bernama *"NAFSUL MUTMA'INNAH*.
Alih alih manusia ingin ketenangan dan Damai, tetapi memakai kendaraan *NAFSUL AMARA* Yaitu suatu kendaraan yang menggerakkan dan mendorong kita dengan gerakan yang *TIDAK TERKENDALI, SEPERTI BINATANG BUAS* bagaimana kita mau berkendaraan dengan tenang, bila kendaraan yang baru, canggih modern tetapi tidak ada *REM atau IMAN* Yang ada hanya *HAWA NAFSU atau GAS*, dipastikan ini kendaraan akan celaka, masuk jurang dan Hancur.
Jadi kalau kita mau adannya ketenangan dan kenyamanan Jiwa, Janganlah hanya menuruti bahkan menuhankan Hawa Nafsu.
اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُۗ اَفَاَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًاۙ
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?
Q.S Al-Furqan [25] : 43
Hadis Qudsi ,
Ya, Allah Swt berfirman:
يا دُنيا اِخْدُمي مَن خَدَمَني وَ أخْدِعي مَن خَدَمَكِ
Artinya: "Wahai dunia, layanilah orang yang melayani Aku, dan perbudakilah orang yang melayani kamu."
Hadis Qudsi ini menunjukkan bahwa Allah Swt akan membalas kebaikan orang yang melayani-Nya dengan kenikmatan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang hanya melayani dunia akan menjadi budak dunia dan tidak akan mendapatkan kebahagiaan sejati. 🌟
III. *DEFINISI IBADAH*
Apa itu ibadah, Apakah ibadah itu cukup dengan Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, Kalo hanya sebatas itu tidak salah, cuma ibadah kita hanya sekedar gugur Mewajibkan secara syariat, yang penting ibadah.
Jadi Ibadah itu adalah: kita *menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dengan tunduk, ketaatan, penuh ketulusan dan Ridho, Serta Mengharapkan Cinta dan Kasih-Nya .*
Jadi Ibadah itu tidak sekedar pekerjaan Tubuh dan Lisan, tapi ada Hati yang penuh *HARAPAN DAN CINTA SAMA ALLAH*
Apabila Allah telah Mencintai Hambanya, Maka tiada Batas antara Hamba dan Allah, Sebagaimana Hadis Qudsi :
Allah Swt berfirman:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أَحْبَبْتُهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
Artinya: "Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atas hamba-Ku. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya." (Hadis Qudsi, Riwayat Bukhari).
Dengan demikian orang yang benar benar beribadah itu di sebut *HAMBA ALLAH*, Sekarang siapakah itu Hamba Allah.!?
*Hamba Allah* Adalah Dimana seseorang yang *Fokus*, *mengumpulkan semua kebaikan* untuk mendapatkan *RIDHO dan KASIH SAYANG ALLAH*, Walaupun ia sendiri tidak tau Persis akan keberadaan-Nya.
Kata "ibadah" diambil dari kata "abd" yang berarti "hamba" atau "budak". Jadi, ibadah secara bahasa berarti "perbudakan" atau "penghambaan", yaitu sikap tunduk dan patuh seorang hamba kepada tuannya. Dalam konteks agama, ibadah berarti penghambaan kepada Allah Swt, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Ya, Allah Swt berfirman:
يا دُنيا اِخْدُمي مَن خَدَمَني وَ أخْدِعي مَن خَدَمَكِ
Artinya: "Wahai dunia, layanilah orang yang melayani Aku, dan perbudakilah orang yang melayani kamu." (Hadis Qudsi)
Hadis Qudsi ini menunjukkan bahwa Allah Swt akan membalas kebaikan orang yang melayani-Nya dengan kenikmatan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang hanya melayani dunia akan menjadi budak dunia dan tidak akan mendapatkan kebahagiaan sejati. 🌟
Pertanyaan nya, dengan definisi tersebut, Kita sudahkah kita *BERIBADAH DAN MENJADI HAMBANYA*!?!?
IV. *TARGET IBADAH*
Dalam beribadah, tentu Allah telah menetapkan Target Minimal dan Maksimal dalam beribadah.
Karena memang Allah menciptakan Manusia dimuka bumi ini Hanya untuk beribadah Kepada Allah seperti dalam Ayat-Nya :
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Al-Dhariyat: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 🌟
Sementara Ada Dua Target dalam ibadah kepada Allah :
1. *SHOLAT*
Sholat adalah target Minimal dalam kita beribadah kepada Allah, apapun ceritanya Kita wajib Sholat dengan situasi dan kondisi keadaan kita.
Karena batas seseorang dengan kekafirannya dan bukan lagi beragama Islam , dengan sengaja meninggalkan Sholat,
Rasulullah SAW bersabda:
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
Artinya: "Batas antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa meninggalkan shalat dapat membawa seseorang ke jurang kekufuran dan kesyirikan. 🌟
Ayat yang indah!
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an:
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Artinya: "Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'." (QS. Al-Baqarah: 43)
Atau ada ayat lain yang lebih spesifik:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
Artinya: "Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktu-waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)
Rasulullah SAW bersabda:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ
Artinya: "Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat." (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa shalat adalah amal yang sangat penting dan akan dihisab pertama kali pada hari kiamat. 🌟
Dan Rosulullah pun Berwasiat kepada Ummat nya,
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
الَّذِي يَتَكَلَّمُ بِهِ وَهُوَ يُصَارِعُ الْمَوْتَ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
Artinya: "Yang pertama kali beliau ucapkan ketika beliau dalam keadaan sakaratul maut adalah: 'Shalat, shalat, dan (ingatlah) hak-hak budak-budak kalian.'" (HR. Abu Dawud)
Namun, hadis yang lebih terkenal adalah:
الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
Artinya: "Shalat, shalat, dan (ingatlah) hak-hak budak-budak kalian." (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam Islam, bahkan di saat-saat terakhir kehidupan Rasulullah SAW.
Sholat itu dari Pesan Al-Qur'an dan Hadis *sangalah PENTING*, Bukan *yang penting Uda sholat*
*Sholatlah dibelakang Imam, jangan Sholat didepan Imam, berarti kita sudah jadi Jenazah.*
Tua tidak bisa dihindarkan, Kematian suatu Kepastian, *BILA KAMU TIDAK BISA MENJAGA KESEHATAN TUBUH MU, YANG SUDAH TUA DAN BANYAK PENYAKIT, MAKA JAGALAH " RUH DAN JIWAMU DENGAN SHOLAT*
2. *KEPEMIMPINAN*
Jadi sholat yang sedemikian Sakral dan wajib bagi ummat Islam, itu hanyalah *target MINIMAL,* dari Allah SWT.
Sedangkan *target MAKSIMAL* dari Allah SWT, kita ini manusia hadir dimuka bumi ini adalah sebagai *KHALIFAH PEMIMPIN YANG RAHMATAN LILALAMIN*
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدُّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, 'Aku akan menjadikan khalifah di bumi.' Mereka berkata, 'Apakah Engkau akan menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?' Allah berkata, 'Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'" (QS. Al-Baqarah: 30)
Karena Hakekatnya Kita ini adalah seorang Pemimpin
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: "Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kalian pimpin." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin, baik sebagai kepala keluarga, pemimpin masyarakat, atau pemimpin negara.
Dan Allah dan Rasulnya sangat senang kepada umat Islam yang Kuat dalam kepemimpinan
Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
Artinya: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah." (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kekuatan, baik fisik maupun mental, adalah sifat yang terpuji dalam Islam, dan seorang pemimpin harus memiliki kekuatan dan kemampuan untuk memimpin umat.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَكُونُ خَلَائِفُ يَحْكُمُونَ بِغَيْرِ مَا حَكَمَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya: "Sesungguhnya agama ini akan memiliki khalifah-khalifah yang akan memerintah dengan selain apa yang diperintahkan oleh Muhammad SAW." (HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan bahwa setelah Rasulullah SAW wafat, akan ada khalifah-khalifah yang akan memimpin umat Islam, namun ada peringatan bahwa ada di antara mereka yang tidak mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: "Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kalian pimpin. Imam (pemimpin) adalah pemimpin, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia pimpin." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa menjadi pemimpin adalah amanah yang besar dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Jadi kesimpulannya Dari dua target Tersebut adalah : *ALLAH DAN ROSULULLAH, SANGAT BERHARAP ATAS UMMAT ISLAM, MEMPUNYAI PEMIMPIN YANG RAHMATAN LILALAMIN DAN BERIBADAH KEPADA ALLAH* Pemimpin yang ,*Propesional, Jujur, tangguh dan dermawan* atau Profesor Jutawan.
Kenyataan Umat Islam ini *krisis Kepemimpinan* Baik tingkat Nasional maupun internasional,
Yang ada di Ummat Islam itu *HANYA KETUA BUKAN PEMIMPIN* , Ketua belum tentu bisa memimpin, *Pemimpin udah pasti bisa jadi ketua apa saja*
Jadi banyak *Ormas Islam dan Partai Islam, Hanya dipimpin oleh seorang Ketua, yang mana belum tentu bisa memimpin, Bahkan mungkin menjadi Menghancurkan Organisasi yang dia Pimpin*
Beda ketua dan Pemimpin:
1. Ketua di depan, sedangkan Pemimpin cukup dibelakang layar mengendalikan situasi kondisi.
2. Ketua mesti Kelihatan, sedangkan Pemimpin tidak perlu kelihatan dan diketahui, yang penting dampak dan hasilnya.
3. Ketua hasil dari pembentukan, rekayasa, pengkondisian dari Atas, sedangkan *Pemimpin itu lahir dari SITUASI DAN KONDISI, DARI ARUS BAWAH,YANG MENGHENDAKI KEHADIRANNYA.*
V. *SYARIAT* ;
Syariat adalah tatacara dalam beribadah kepada Allah, yang sesuai dengan syarat, Sah dan Rukunnya, dari Ucapan dan perbuatan.
Syariat adalah aturan atau hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia, baik dalam urusan ibadah, muamalah (hubungan sosial), maupun akhlak. Syariat Islam bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis Nabi Muhammad SAW.
Dalam bahasa Arab, syariat (شريعة) berarti "jalan" atau "aturan". Syariat Islam bertujuan untuk membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi manusia di dunia dan akhirat.
Dalil tentang syariat Islam adalah:
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. Al-Jathiyah: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa syariat Islam adalah aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia.
Hadis tentang syariat Islam adalah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ, وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ, فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا"
Artinya: "Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Agama itu mudah, dan tidak ada seorang pun yang memperberat diri dalam agama kecuali akan dikalahkan. Maka berlakulah lurus, dan berusahalah mendekati (kebenaran), dan berilah kabar gembira (kepada orang lain)'. (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa syariat Islam adalah aturan yang mudah dan tidak memberatkan, serta mendorong umat Islam untuk berlakulah lurus dan berusahalah mendekati kebenaran.
V. *TAUHID* :
Tauhid adalah kita Mengetahui siapa yang kita Ibadahi, dengan MengEsakan Allah. Tiada tuhan yang Maha Berkuasa, selain daripada Allah.
Dalil tentang tauhid adalah:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ, اللَّهُ الصَّمَدُ, لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ, وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Dia Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia'." (QS. Al-Ikhlas: 1-4)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan ditaati, dan tidak ada yang setara dengan Dia.
Hadis tentang tauhid adalah:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ أَهْلَ التَّوْحِيدِ إِذَا قُبِضُوا جِيءَ بِهِمْ إِلَى الْجَنَّةِ, وَهُمْ فِي الْبَرْزَخِ فِي الْجَنَّةِ"
Artinya: "Dari Abdullah bin Amr RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya ahli tauhid jika mereka dicabut nyawanya, mereka akan dibawa ke surga, dan mereka berada di alam barzakh di surga'." (HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan keutamaan dan pahala bagi orang-orang yang mengesakan Allah SWT (tauhid).
Hadis lain tentang tauhid adalah:
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ"
Artinya: "Dari Mu'adz bin Jabal RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah La ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), maka ia akan masuk surga'." (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan bahwa tauhid adalah kunci untuk masuk surga.
Beragama ya mesti Ibadah, Tau dan Faham apa itu ibadah, dan mengetahui Target dalam beribadah , Maka disebutlah sebagai Hamba Allah, Yaitu : *"Seseorang yang fokus mengumpulkan semua kebaikan, Komitmen yang jelas, Konsisten terus menerus Lillah tak pernah Lelah, Selalu siap dengan Konsekwensinya dan mempunyai Integritas yang tidak diragukan lagi"*
Maka untuk menjadi Hamba, Abdi atau Pelayan Allah, tentu Mesti, Mengenal siapa yang dilayani dan di sembah.
*Apabila kita menyembah Sesuatu yang kita tidak ketahui dan tidak dikenal, sama juga menyembah Sesuatu yang tidak ada.*
Sebagaimana ucapan Imam Ali RA. Berkata :
إِنَّمَا عَبَدْتَ شَيْئًا لَمْ تَعْرِفْهُ
Artinya: "Sesungguhnya kamu telah menyembah sesuatu yang tidak kamu kenal."
Lalu ada juga riwayat yang mengatakan:
مَنْ عَبَدَ مَجْهُولًا فَهُو كَعَابِدِ مَعْدُومٍ
Artinya: "Barangsiapa yang menyembah sesuatu yang tidak dikenal, maka dia seperti menyembah sesuatu yang tidak ada."
Kata-kata ini menunjukkan bahwa menyembah sesuatu yang tidak kita kenal atau tidak ada adalah sia-sia dan tidak ada manfaatnya.
Karena Hakekatnya Allah itu *"INGIN DIKENAL DAN DIKETAHUI* Bagaimana kita menyembah tidak tau atau tidak Kenal siapa yang Kita ibadahi, sebagaimana dalam hadis Qudsi:
Rasulullah SAW bersabda:
كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًّا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ
Artinya: "Aku adalah harta yang tersembunyi, *maka Aku ingin dikenal*, maka Aku menciptakan makhluk." (Hadis Qudsi, HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia karena ingin dikenal dan dicintai oleh makhluk-Nya. 🌟
Pada Awal Kenabian, Rosulullah selalu menyebut Tuhan, Kemudian Orang Musyrik, Kafir dan Yahudi, Bertanya Kepada Rosulullah, siapakah Tuhanmu ya Muhammad, maka turunlah Surat Al ikhlas untuk menjawabnya,
Surat Al-Ikhlas turun sebagai jawaban atas pertanyaan kaum kafir Quraisy atau Yahudi kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjelaskan nasab dan sifat-sifat Tuhan yang beliau sembah. Surat ini menegaskan tauhid murni bahwa Allah itu Esa, tempat bergantung, serta tidak beranak maupun diperanakkan, sebagai bantahan terhadap kepercayaan musyrik.
Dan ditegaskan di Surat Taha, Untuk Allah Memperkenankan diri-Nya.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Artinya: "*Sesungguhnya Aku adalah Allah,* tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Taha: 14).
Dan inilah sebagai Dalil, dari Pelajaran dan Pemahaman Ilmu Tasawuf , Tarekat, Hakekat dan Makrifat, Yang orangnya disebut para Sufi dan wali kekasih Allah.
Jadi Ilmu Syari'at Tidak mungkin dipisahkan dengan Ilmu Makrifat, *Apabila kita sudah Makrifat pasti sudah bersyari'at, atau sebagaimana kita makan Kacang, pasti sudah membuka Kulit Kacang.* Kulit kacang Syariat, Biji kacang Makrifat.
VI. *TASAWUF*
Tasawuf itu adalah Adab, Etika atau Akhlak kita dalam Beribadah kepada Allah.
Tasawuf adalah suatu disiplin ilmu dalam Islam yang fokus pada aspek spiritual dan moral, bertujuan untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tasawuf juga dikenal sebagai "ilmu akhlak" atau "ilmu tasfiyah al-nafs" (ilmu penyucian jiwa).
Dalam bahasa Arab, tasawuf (تصوف) berasal dari kata "suf" yang berarti "bulu domba", merujuk pada pakaian sederhana yang dikenakan oleh para sufi (pengamal tasawuf) sebagai simbol kesederhanaan dan kezuhudan.
Dalil tentang tasawuf adalah:
وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَدِيَّةٌ وَهَدِيَّةُ أَهْلِ الْعِلْمِ التَّصَوُّفُ
Artinya: "Dan bagi setiap kaum ada hadiah, dan hadiah bagi ahli ilmu adalah tasawuf." (Hadis ini tidak ditemukan dalam sumber yang jelas, namun ada beberapa riwayat yang mirip)
Namun, ada ayat Al-Qur'an yang mendukung konsep tasawuf, yaitu:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: "Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwanya." (QS. Al-Syams: 9-10)
Ayat ini menunjukkan pentingnya membersihkan jiwa, yang merupakan tujuan utama tasawuf.
Hadis tentang tasawuf adalah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ"
Artinya: "Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuhmu dan tidak pula kepada harta bendamu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalanmu'." (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa yang penting adalah keadaan hati dan amalan, bukan hanya penampilan luar, yang merupakan prinsip dasar tasawuf.
VII. *MAKRIFAT*
Makrifat adalah kita beribadah kepada Allah, dengan MENENALNYA, DEKAT DAN PENUH KASIH SAYANG.
Makrifat adalah pengetahuan atau pengenalan yang mendalam tentang Allah SWT, yang diperoleh melalui pengalaman spiritual dan pengamalan ibadah. Makrifat juga berarti kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan.
Dalam bahasa Arab, makrifat (معرفة) berarti "pengetahuan" atau "pengenalan". Makrifat adalah tahap tertinggi dalam perjalanan spiritual, di mana seseorang telah mencapai kesadaran yang mendalam tentang Allah SWT dan sifat-sifat-Nya.
Dalil tentang makrifat adalah:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
Artinya: "Maka ketahuilah (makrifatlah) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun atas dosamu." (QS. Muhammad: 19)
Ayat ini menunjukkan pentingnya makrifat, yaitu pengetahuan dan pengenalan yang mendalam tentang Allah SWT, sebagai dasar untuk mencapai kesempurnaan iman.
Kalimat yang kamu maksud adalah:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا
Artinya: "Sesungguhnya Aku, Akulah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku." (QS. Ta Ha: 14)
Ayat ini merupakan bagian dari firman Allah SWT kepada Nabi Musa AS, yang menunjukkan keesaan dan kekuasaan Allah SWT.
Kalimat yang kamu maksud adalah:
كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًّا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فَتَعَرَّفْتُ إِلَيْهِمْ فَعَرَفُونِي
Artinya: "Aku adalah harta yang tersembunyi, maka Aku ingin dikenal, maka Aku menciptakan makhluk, lalu Aku memperkenalkan diri kepada mereka, maka mereka mengenal Aku." (Hadis Qudsi, riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Allah SWT menciptakan makhluk untuk dikenal dan dicintai oleh mereka.
Kalimat yang kamu maksud adalah:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Artinya: "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya." (QS. Al-Hijr: 29 dan QS. Sad: 72)
Ayat ini merupakan bagian dari kisah penciptaan Adam AS, di mana Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam AS sebagai tanda penghormatan.
Kalimat yang kamu maksud adalah:
فَإِذَا أَحْبَبْتُ عَبْدِي فَأَنَا سَمْعُهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرُهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدُهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلُهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا
Artinya: "Jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, dan penglihatannya yang dengannya ia melihat, dan tangannya yang dengannya ia bertindak, dan kakinya yang dengannya ia berjalan." (Hadis Qudsi, riwayat Al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa Allah SWT akan menjadi dekat dengan hamba-Nya yang dicintai, dan akan membimbingnya dalam setiap aspek kehidupannya.
*VII. MANAJEMEN IBADAH*
1. *Komitmen.*
Jadi Ibadah Juga harus Manajemennya Yaitu: *Suatu PERENCANAAN ALLAH, yang sudah di Sepakati dalam suatu MOU Perjanjian Pada saat di Alam RUH, Dan RUH bersaksi BAHWA ALLAH SAJALAH YANG DIIBADAHI*
Jadi Tidak ada alasan bagi Ruh ruh calon manusia yang kelak terlahir dimuka bumi ini , tidak mengenal Allah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۚ شَهِدْنَا ۚ
Artinya: "Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: 'Benar, kami bersaksi'." (QS. Al-A'raf: 172)
Ayat ini merujuk pada perjanjian antara Allah SWT dengan anak cucu Adam sebelum mereka lahir, di mana Allah SWT bertanya apakah mereka mengakui-Nya sebagai Tuhan, dan mereka menjawab "benar". 🌟
Jadi Hakekatnya Manusia dimuka bumi ini waktu di Alam Arwah, Sudah mengenal Allah, dan Beriman , tapi setelah terlahir ke dunia, Lupa, lalai, bahkan Mengingkari Allah.
Kenapa bisa seperti itu, Wajar karena sudah pindah dari alam, Arwah, Rahim dan dunia, dan juga tergantung Orang tuanya, sebagai Hadis Nabi ;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: "Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda: 'Tidak ada anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah (islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi'." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (islam), namun orang tua dan lingkunganlah yang mempengaruhi agamanya.
Perjanjian MOU, inilah yang mengikat Menjadi *AMANAT* kepada setiap manusia, yang tidak boleh dilanggar, berupa akan : *KESAKSIAN AKAN KEBERADAAN ALLAH, DAN TIDAK ADA TUHAN LAIN , SELAIN ALLAH*
karena sebenarnya amanat yang sangat Besar dan berat ini sudah Allah Tawarkan kepada Mahluk Yang besar dan kuat tapi menolak Tidak sanggup, Tetapi *Manusia sanggup menerima AMANAT tersebut dengan segala Resiko konsekuensinya*.
Ayat yang indah!
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menawarkan *amanat* kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi mereka menolak untuk memikulnya dan mereka khawatir tidak akan dapat menunaikannya. Dan manusia telah memikulnya. Sesungguhnya manusia itu adalah zalim dan bodoh." (QS. Al-Ahzab: 72)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT telah menawarkan amanat (tanggung jawab) kepada makhluk-Nya, tetapi hanya manusia yang berani memikulnya.
2. *KONSEKWESI*
Dengan adanya surat perjanjian kesepakatan tersebut, Tentu ada Konsekuensinya, Bila Amanah menjaga *TAUHID KE ESAAN ALLAH* Mama Allah beri Pahala, bila Mempersekutukan Allah, Siksa dan azab yang Di dapat.
Mungkin kamu maksud:
لَقَدْ خَلَقْنَا كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لِلنَّارِ
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia." (QS. Al-A'raf: 179)
وَلَقَدْ مَلَأْنَا جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالْإِنسِ أَجْمَعِينَ
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah memenuhi neraka Jahannam dengan kebanyakan dari jin dan manusia." (QS. Al-Sajdah: 13)
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan banyak dari jin dan manusia untuk (dimasukkan ke dalam) neraka Jahannam. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf: 179)
Tetapi bila di dunia tetap selalu menjaga Komitmen selalu dijalan Allah, Maka Allah berikan Kebaikan yang berlimpah dan tidak disangka.
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)
3. *KONSISTEN*
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran: 102)
Ayat ini menekankan pentingnya bertakwa kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan konsisten dalam keimanan, ketauhi dan Makrifattullah kenal Allah hingga akhir hayat.
Jadi kita mesti menjaga Komitmen kita kepada Allah dengan Konsisten, Istiqomah dan tidak ada alasan untuk kita tidak menjalankan Komitmen, bahkan sampai nafas terakhir.
Mau suka duka, anugrah musibah, susah senang, Apapun yang terjadi dengan takdir yang Allah berikan, kita tetap Komitmen dengan selalu BERSABAR DAN BERSYUKUR.
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
Q.S Al-Baqarah [2] : 152
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Q.S Al-Baqarah [2] : 153
عَنْ أَبِي عَمْرٍو وَقِيلَ أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Artinya: "Dari Sufyan bin Abdullah RA, ia berkata: 'Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam dengan satu kalimat yang tidak aku tanyakan kepada orang lain setelahmu.' Nabi SAW bersabda, 'Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah', kemudian beristiqomahlah.'" (HR. Muslim)
Hadis ini menekankan pentingnya istiqomah (konsistensi) dalam keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
4. *KONTRIBUSI*
Bersambung,,,, 4 April 2026